Tragedi Oktober

Berat rasanya nak tulis post kali ini, seberat rasa di hati. Beberapa bulan ini hidup peribadi saya mengalami banyak perubahan drastik. Perubahan yang saya sendiri tak pasti sama ada saya bersedia atau tidak. Kalau ikutkan semangat, memang rasa tak kuat. Tapi mengenangkan masa depan Fatin dan keluarga saya, saya kuatkan juga hati, kerana petunjuk yang Allah beri dalam setiap istikharah saya, ke arah yang sama.

Cendol kelapa ini terasa pahit, seperti perasaan saya ketika menjamahnya

Banyak yang saya dah lakukan, pengorbanan dan kesilapan demi kesilapan. Tak terkira dah titisan air mata, juga tekanan emosi yang saya hadapi. Tapi saya percaya dugaan yang saya alami ini membuat saya menjadi kuat. Sepanjang perjalanan dari Manjung ke Banting menggunakan jalan lama melalui Teluk Intan-Klang, saya singgah dengan segala macam kenangan dan doa.Pemandangan di Tanjung Karang dan Sabak Bernam banyak membuat saya terfikir sendiri, “Are you ready to have a new title, Dyieba?”

Pemandangan menarik di belakang masjid di Tg Karang

Pakaian saya serba hitam, sehitam kenangan saya sepanjang perjalanan ini. Tak usah cerita berapa kali saya menangis. Sampai dah habis air mata nak luahkan segala yang terpendam. Tapi syukur, keluarga saya tetap kuat bersama saya.

Masih cuba tersenyum

Kalau orang tanya apa yang terjadi, biarlah saya pendam sendiri. Tepuk sebelah tangan tak akan berbunyi. Tapi saya tahu, dalam menempuh cabaran ini, saya tak sendiri. Kekuatan saya semua di sekeliling saya. Mudahan Allah permudahkan segalanya.

Tough time won’t last, tough people do.
– Dr. Robert Schuller –